Tato Memicu Kanker Kulit Hingga Hepatitis

Minggu, 03 April 2016 05:00
Tato Memicu Kanker Kulit Hingga HepatitisIlustrasi membuat tato @todayifoundout.com
Saat ini penggunaan tato memang sangat marak. Bahkan, para ahli fashion mengatakan bahwa tato merupakan salah satu kosmetik yang dapat dipakai oleh pria atau pun wanita.

Terlebih banyak orang yang hanya berpikir tentang dampak buruk tato dalam jangka pendek, seperti alergi, infeksi, dan efek kecil lainnya.

Dr. Andreas Luch dari German Federal Institute for Risk Assessment di Berlin Jerman mengungkapkan bahwa tidak ada jaminan tinta yang disuntikkan ke dalam tubuh ini aman. Bakteri jelas terkandung di dalamnya.

Luch menjelaskan, sebuah penelitian yang dilakukan pada mayat seseorang yang dulunya memiliki tato, ternyata tato pada tubuh mayat tersebut telah menghilang 90 persen. Padahal, mayat tersebut telah memiliki tato selama puluhan tahun semasa hidupnya.

Para ilmuwan bahkan tidak mengetahui apa yang terjadi pada tinta tato itu sehingga bisa menghilang. Hingga saat ini tidak ada pengaturan standar untuk industri tinta. Jika ada yang iritasi pasca tato, baru akan dilaporkan ke polisi dengan tuduhan malpraktek.

Meski tinta modern saat ini telah mengandung pigmen organik, tapi juga memiliki unsur pengawet dan kontaminan seperti nikel, arsenik dan timah.

Padahal dalam perundang-undangan jelas dilarang penggunaan pengawet tersebut. Sementara pada tinta tato, telah ditemukan setidaknya 14 persen kandungan pengawet.

Tinta tersebut disuntikkan ke jaringan kulit dan masuk ke aliran darah. Sehingga orang dengan darah yang telah terkontaminasi tinta tidak boleh melakukan donor darah meski dinyatakan sehat total.

"Peraturan tentang tato yang berdasarkan kosmetik bahkan tidak cukup untuk kasus ini," kata Luch, seperti dikutip dari Huffingtonpost.

Selain itu dampak buruk penggunaan tato bisa mengakibatkan kanker kulit, atau bisa juga hepatitis. Ini akan terjadi jika pembuat tato menggunakan jarum bekas sangat besar kemungkinan tertular HIV/AIDS.
(De)
Komentar