Tunda Kehamilan Bikin Kualitas Reproduksi Menurun

Kamis, 31 Maret 2016 09:00
Tunda Kehamilan Bikin Kualitas Reproduksi MenurunIlustrasi suami istri @tqn.com
Tak jarang pasangan yang memiliki kesibukan karier sendiri-sendiri lantas memutuskan untuk menunda kehamilan dan lebih fokus untuk menuntaskan karier dan impian masing-masing meski telah menikah.

Sayangnya, menurut anggota tim SMART IVF, dr. Yassin Yanuar Mohammad, SpOG, menunda kehamilan mempengaruhi jumlah sel telur seorang wanita bahkan bisa jadi menyebabkan gangguan infertilitas hingga penuaan reproduksi.

Gangguan infertilitas sendiri adalah ketidakmampuan suatu pasangan untuk memiliki keturunan, usai melakukan hubungan intim secara teratur meskipun tidak menggunakan alat kontrasepsi. Hal ini biasa dialami ketika pernikahan menginjak 1-2 tahun.

"Saat ini, 4-6 juta pasangan yang telah menikah di Indonesia mengalami gangguan kesuburan. Banyak faktor yang mempengaruhi, yakni genetik, terlalu lama menunda memiliki momongan, gaya hidup, riwayat radiasi, kebiasaan merokok dan lainnya," kata Yassin, dikutip dari republika.co.id.

Sementara penyebab gangguan infertilitas ini tidak hanya dapat dialami oleh para perempuan saja tapi juga dapat dialami oleh laki-laki, bahkan tak jarang juga ada yang tidak diketahui penyebabnya.

Pada perempuan, biasanya diakibatkan oleh gangguan ovulasi, gangguan haid yang tidak teratur, penyakit bawaan, faktor umur serta gangguan pada rongga panggul. Sementara pada laki-laki biasanya diakibatkan oleh gangguan pada sperma, penyakit bawaan dan faktor umur.

"Kalau pada perempuan, gangguan infertilitas ini dapat menyebabkan menurunnya jumlah sel telur yang berkualitas dan berkuantitas. Biasanya hal ini banyak terjadi pada perempuan usia diatas 35 tahun, " tambahnya.

Bahkan pada usia tersebut penurunan jumlah sel telurnya bisa mencapai 1/6 persen. Selain usia, penurunan jumlah sel telur ini juga dapat terjadi pada wanita hamil pada usia 20 minggu.

Menanggapi hal ini, dokter mengungkapkan bahwa hal itu sebenarnya merupakan sebuah pilihan. Akan tetapi, penundaan memiliki momongan ini harus dipikirkan dengan matang, sehingga tidak terjadi gangguan infertilitas dan penurunan jumlah sel telur secara signifikan.

"Hal ini juga sebenarnya berkaitan dengan gaya hidup setiap pasangan itu sendiri. Kalau gaya hidupnya sehat dan berencana menunda memiliki momongan, kami rasa sah-sah saja. Namun tetap harus diintervensi dengan baik oleh dokter," jelas Yassin.
(De)
Komentar