Sering Bercinta Bisa Atasi Alergi Sperma Pada Wanita

Senin, 21 Maret 2016 20:00
Sering Bercinta Bisa Atasi Alergi Sperma Pada WanitaIlustrasi pasangan seks @readersdigest.ca
Meski tergolong jarang, namun alergi terhadap cairan mani atau sperma ini memang terbukti adanya. Untuk mengatasinya pun, seorang ahli alergi di kota New York menyarakan agar wanita yang alergi dengan sperma lebih sering melakukan hubungan seks.

Dilansir dari webMD, namun untuk alergi yang tergolong langka ini pasangan suami istri harus mendapat bimbingan dari dokter. Sebab tanpa desensitisasi (proses kebas), hubungan seks penderita alergi malah bisa berujung maut.

Menurut David J. Resnick, MD, wanita penderita alergi tersebut merasakan gatal, rasa terbakar, dan bengkak pada alat kelaminnya. Bahkan mereka bisa bentol-bentol atau kesulitan bernafas.

Dalam sidang American College of Allergy, Asthma, and Immunology beberapa tahun lalu, sang dokter dan rekan-rekannya memaparkan kasus alergi cairan mani yang diderita seorang wanita Puerto Rico. Untungnya, pasien menanggapi terapi kebas secara baik.

Sementara upaya mengatasi masalah ini dibagi menjadi 2 yaitu suntikan alergi dengan dosis rendah cairan mani pasangan dan memberikan tantangan ke bagian dalam vagina secara perlahan.

Cara yang berlangsung beberapa jam ini, dokter akan memasukkan cairan mani pasangan ke dalam vagina pasien dengan jumlah yang meningkat setiap 20 menit. Bahkan pasangan suami istri ini wajib bercinta setidaknya 2 atau 3 kali seminggu.

Kegagalan penanganan berkaitan dengan pasangan yang tidak sering melakukan hubungan seks yang memberi paparan ulang pasien kepada alergen (penyebab alergi). Pasien yang tinggal tidak berdekatan dengan pasangannya dapat mendinginkan ataupun membekukan contoh cairan mani pasangan supaya mereka bisa melanjutkan paparan yang sering. ujar Resnick melalui terbitan pers.

Sebagai imunoterapi, suntikan alergi ataupun tantangan cairan mani harus dimulai di tempat perawatan yang dilengkapi, sehingga bisa merawat pasien yang sangat peka (hypersensitive) ini untuk menghindari reaksi kaget secara anafilaksis.

Reaksi yang mengancam nyawa itu bisa terjadi ketika orang yang memiliki alergi bersentuhan dengan alergennya. Resnick menganjurkan agar para wanita penderita alergi cairan mani melengkapi diri dengan suntikan epinefrin.

Sementara jumlah wanita yang mengalami alergi ini tergolong jarang dan tak mudah dikenali, Resnick mengatakan bahwa biasanya pasien adalah wanita berusia 20-an.

Sekitar 41 persen wanita penderita alergi ini menunjukkan gejala pada persetubuhan pertamanya. Gejala-gejalanya cenderung memburuk setiap pemaparan ulang, kecuali kalau mereka menjalani penanganan pengurangan rasa kebas.

Resnick juga mengingatkan kepada Anda semua bahwa alergi cairan mani bukanlah penyebab langsung kemandulan.
(De)
Komentar