Bahaya dan Cara Atasi Racun Lampu Hemat Energi

Jum'at, 11 Maret 2016 18:30
Bahaya dan Cara Atasi Racun Lampu Hemat EnergiIlustrasi lampu @gstatic.com
Saat ini hampir seluruh masyarakat Indonesia telah mengganti lampu mereka dengan lampu hemat energi. Selain cahaya lebih terang, lampu ini dipercaya dapat lebih menghemat arus listrik.

Sayangnya sebuah penelitian mengeluarkan statement yang sangat mengejutkan dimana ternyata lampu hemat energi mengandung racun berbahaya bagi kesehatan.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di Institus Fraunhofer Wilhelm Klauditz untuk Badan Federal Lingkungan menunjukkan jika lampu ini pecah di dalam ruangan, bola lampu ini akan melepaskan 20 kali lipat konsentrasi merkuri maksimum yang dapat diterima di udara.

Padahal, lampu hemat energi ini akan melepaskan 20 kali merkuri lebih banyak di udara, dan hal ini dapat menyebabkan beberapa masalah, seperti pusing, migrain, sakit kepala cluster, kejang, memicu gelisah, susah konsentrasi, bahkan kelelahan.

Merkuri yang terkandung dalam lampu hemat energi ini merupakan neurotoxin yang sangat berbahaya bagi anak-anak dan ibu hamil, sebab sangat beracun terutama bagi otak, sistem saraf, hati dan ginjal.

Parahnya lagi, dapat merusak sistem reproduksi, kardiovaskular, dan kekebalan tubuh. Tak hanya itu, merkuri ini juga dapat menyebabkan rasa cemas, insomnia, kehilangan memori, sakit kepala, kejang, kanker, dan Alzheimer.

Bahaya lainnya adalah ketika lampu ini menyala, lampu akan memancarkan radiasi UV-B dan sedikit UV-C yang langsung menyerang sistem kekebalan tubuh dan dapat merusaka jaringan kulit yang cukup untuk merusak pembentukan vitamin D-3.

Sementara studi yang dilakukan oleh Peter Braun di Alab Laboratry Berlin, Jerman menemukan bahwa bola lampu hemat energi mengandung karsinogen yang dapat menyebabkan kanker, seperti:

- Naftalena, senyawa berbentuk kristal putih yang mudah menguap yang dihasilkan dari penyulingan tar batubara, digunakan dalam kapur barus dan sebagai bahan baku untuk pembuatan bahan kimia.

- Styrene, sebuah hidrokarbon cair tak jenuh, yang diperoleh sebagai produk sampingan minyak bumi.

- Fenol, sebuah asam kristal putih beracun padat, yang diperoleh dari tar batubara dan digunakan dalam industri kimia.

Nah jadi mungkin ada baiknya untuk meningkatkan kewaspadaan dalam penggunaan lampu hemat energi ini. Salah satunya dengan melakukan beberapa pencegahan hal berbahaya terkait lampu hemat energi berikut ini:

1. Jika bola lampu ini pecah, segera keluarkan orang dan hewan dari dalam ruangan, buka jendela dan pintu agar udara luar bisa masuk dan gas beracun dari bola lampu dapat keluar.

2. Segera matikan AC dan segera bersihkan pecahan lampu tanpa tersisa.

3. Selama pembersihan jangan sekali-kali menggunakan penyedot debu agar bubuk yang mengandung merkuri tidak menyebar.

4. Bereskan semua alat pembersih jika sudah selesai dan buang pecahan bola lampu dengan sampah rumah tangga lainnya.

5. Jika sudah biarkan ruangan tetap mendapat udara dari luar dan tetap matikan pending ruangan selama beberapa jam agar racun merkuri dari bola lampu benar-benar telah hilang.
(De)
Komentar