Cara Lindungi Anak Dari Pedofil

Selasa, 23 Februari 2016 07:00
Cara Lindungi Anak Dari PedofilIlustrasi anak bermain gadget @greatschools.org
Di zaman modern dan canggih ini ternyata dapat membuat anak-anak kian rentan dalam eksploitasi seksual. Bahkan hal ini harus benar-benar disadari oleh para orang tua, dimana banyak sekali bahaya predator seksual yang mengintai sang buah hati.

Menurut psikolog Diena Haryana, kasih sayang dan perhatian orang tua merupakan syarat utama. Khususnya terhadap anak-anak usia 12-18 tahun. Diena menilai, mereka memiliki semangat dan rasa ingin tahu (curiosity) yang amat besar terhadap hal-hal baru.

"Mereka juga ekspresif, selalu ingin didengar. Bersikap eksploratif terhadap hal-hal yang baru," kata Diena Haryana, dikutip dari republik.co.id.

Sayangnya, rasa keingintahuan mereka tak juga disertai dengan kemampuan nalar yang matang. Karena perkembangan jaringan otak anak-anak dan remaja memang belum sempurna. Sehingga mereka naif dan mudah mempercayai orang lain yang disukainya, tanpa pertimbangan dampak positif-negatif terlebih dulu.

Diena juga menuturkan bahwa kelemahan itulah yang dimanfaatkan para pedofil sebagai celah. Para predator seksual itu berusaha merayu anak-anak atau remaja agar mereka merasa nyaman.

Bahkan dengan mudahnya pengaksesan internet saat ini, banyak pedofil yang melancarkan aksinya lewat jaringan internet. Seperti media pesan pendek di gawai atau gadget yang diberi isi kurang pantas (sex-text), yang kerap dipakai pedofil predator anak-anak.

"Pedofil menarik hati dan kepercayaan anak melalui sex-text atau pengiriman pesan singkat yang sifatnya seksual melalui gawai atau gadget," ujar dia.

Sex-text tersebut seperti emoticon yang menampilkan adegan bermesraan, baik antara lelaki dan perempuan maupun gay atau lesbian. Atau bahkan yang paling berbahaya ialah kata-kata rayuan bernada ramah, bersahabat, dari si pedofil.

Nah, jika hal ini tidak diketahui oleh para orang tua. Sang anak akan dengan mudah menganggap dan mempercayai modus para pedofil dengan anggapan bahwa mereka tulus.

Kemudian masuk dalam tahap grooming dimana sang pedofil sudah dianggap pelindung oleh sang anak. Padahal, tujuannya pedofil agar anak-anak itu bisa dieksploitasi seksual secara sukarela.

Terlebih, eksploitasi ini bisa terjadi secara virtual atau bahkan face to face, pedofil bersentuhan secara fisik langsung dengan si anak. Sementara orang tua biasanya tidak atau belum tahu-menahu.

"Tadinya sex-text, anak-anak mulai percaya. Lalu olehnya (pedofil) anak-anak diajarkan, coba pegang bagian-bagian badan yang sensitif. Enak nggak? Pelan-pelan dirayu sampai si anak masuk dalam pengaruhnya." tutur Diena Haryana.

Hasilnya, anak merasa nyaman. Bahkan, sebut Diena, dalam eksesnya, anak-anak merasakan kenikmatan yang lantas menyebabkan adiksi seks dengan pedofil.

"Adiksi seksual ini akan menyebabkan hilangnya motivasi (anak) untuk belajar dan bermain seperti normalnya mereka. Karena imajinatifnya mereka, maka ada bagian di otak yang 'mengajak' eksplorasi (seks) yang lain. Ini dapat mengakibatkan anak berperilaku seksual menyimpang. Otak mereka hanya penuh dengan itu. Ini yang membedakan dengan orang dewasa. Orang dewasa (normal) punya kemampuan mengendalikan gairah seksual." paparnya.

Diena menegaskan betapa besar internet dimanfaatkan untuk kepentingan eksploitasi seksual. Bahkan para pedofil di dunia maya membentuk jaringan yang global dan kuat. Mereka menjadikan anak-anak sebagai sumber bisnis.

Diena mencontohkan, tiap pedofil bisa menyimpan ratusan atau ribuan foto seksual anak-anak yang sudah mereka perdaya. "Maka terjadi di antara para pedofil dunia maya, tukar-menukar foto. Bahkan ada (komunitas pedofil) yang mensyaratkan anggotanya harus punya 10 ribu foto original, yang tak dimiliki pedofil lain." ujarnya.

"Ini kan artinya mereka (pedofil) harus cari terus anak-anak. Maka ada yang membuat bisnis ini. Anak-anak dikumpulkan, dikoreografikan, difoto, video, lalu hasilnya dijual oleh orang-orang tak bertanggung jawab ini. Ini bisnis global," sambung Diena.

Oleh karena itu, dirasa sang penting untuk orang tua mengetahui dan berteman dengan sang buah hati di media sosial. Dan dianjurkan pula untuk mengajarkan kepada sang anak agar tidak menyampaikan username, sandi masuk, atau informasi pribadi ke sembarang orang.

Bahkan jika mendapat kiriman pesan pendek segera menghapus tanpa membalas. "Hadirnya ayah dan ibu dalam mendidik dan bersahabat dengan anak. Di medsos, misalnya, ajarkan anak untuk tidak membuat status 'jam berapa, mau pergi ke mana'. Karena sering pedofil ini menguntit (akun medsos anak) dan di dunia nyata bertemu, mengaku-aku kerabat," tukas dia.
(De)
Komentar