Bukan dari Hati, Cinta Datang dari Otak

Kamis, 11 Februari 2016 18:45
Bukan dari Hati, Cinta Datang dari OtakIlustrasi @roleplayerguild.com
Selama ini kita dijejali dengan pemikiran orang abad ke-16 bahwa hati atau jantung (heart) disimbolkan dengan daun waru seperti yang terlihat di kartu remi atau bungkus kado valentine. Namun, hal itu sepenuhnya tidak bisa dibenarkan, begitu juga teori yang menyebutkan bahwa cinta datangnya dari hati.

Rasa cinta, seperti deg-degan, cemburu, atau sayang datangnya bukan dari hati, melainkan dari bagian terdalam otak di tengah sistem limfatik atau pusat emosi pada otak yang disebut dengan hipotalamus.

Hipotalamus merupakan bagian di mana semua rangsangan diterima manusia kemudian diproses, mulai dari pelukan, sentuhan, hingga emosi. Hipotalamus akan menginstruksikan tubuh untuk memberi reaksi yang sesuai dengan emosi dan rangsangan manusia.

Ketika seseorang putus hubungan dengan kekasihnya, secara otomatis hipotalamus memicu munculnya rasa sesak di dada, tingginya tekanan darah, perubahan pola tidur, bahkan sampai nafsu makan yang hilang.

Selain itu cinta juga tak lepas dari nafsu yang dikendalikan oleh hormon tubuh. Dalam hal ini, hipotalamus ternyata mempunyai peran untuk menjadi penghasil hormon kelenjar pituari yang bisa menyebabkan naiknya libido, semangat, serta stres.

Tak hanya itu, hipotalamus juga bisa menghasilkan hormon cinta yang disebut oksitosin. Oksitosin biasanya muncul ketika dua pasangan saling berpelukan dan kemudian akan menghilangkan stres serta rasa cemas. Hal inilah yang menjelaskan timbulnya perasaan tenang ketika seseorang berpelukan.
(mks)
Komentar