Biker Moge Berduka, PT Mabua Harley-Davidson Resmi Tutup

Sabtu, 06 Februari 2016 18:00
Biker Moge Berduka, PT Mabua Harley-Davidson Resmi TutupKlub moge Harley-Davidson @kompas.com

Kabar duka bagi pecinta dunia otomotif, khususnya moge atau motor gede. PT Mabua Harley-Davidson selaku agen penjual motor bergengsi itu tutup.

Mabua menjelaskan dalam surat internal yang bocor ke publik, alasan tutup karena terkait kebijakan pemerintah Indonesia.

Diantaranya pajak impor moge yang mencapai tiga kali lipat. Alhasil, nilai jual motor pabrikan Amerika itu pun naik drastis hingga mengurungkan niat calon konsumennya.

Menurut sumber dalam yang ogah disebutkan namanya, sebenarnya sudah banyak pihak yang berminat mengambil alih keagenan Harley-Davidson Indonesia.

"Ada beberapa yang kepengin ambil alih, ya A, B, C, D, tapi saat ini belum ada kepastian. Semua tentunya keputusan ada di tangan HDMC (Harley-Davidson Motor Company). Jika diibaratkan, HDMC saat ini sedang buka lowongan, tinggal nanti siapa yang paling cocok untuk pegang Harley-Davidson di Indonesia," kata sumber tersebut.

Sumber itu manambahkan, Mabua akan tetap terlibat namun statusnya hanya sebagai diler. Dengan kata lain, pemilik moge diminta tidak perlu panik akan kebutuhan suku cadang dan piranti lainnya.

"Saat ini banyak pemilik Harley yang sudah menelepon ke Mabua, mereka merasa takut dengan kabar ini. Tapi kami tegaskan semua akan baik-baik saja. Apalagi di bawah keagenan yang baru nantinya. Sebagai bentuk komitmen, yang pasti kami tetap akan memberikan layanan purna jual serta penjualan suku cadang, dan lain-lain," ujarnya.

Sementara itu, meski sempat menutup-nutupi kabar tutupnya PT Mabua Harley-Davidson, akhirnya kabar tersebut dibenarkan juga.

"Dengan berat hati bersama ini diberitahukan bahwa PT Mabua Harley-Davidson dan PT Mabua Motor Indonesia tidak memperpanjang keagenan Harley-Davidson di Indonesia, terhitung mulai tanggal 31 Desember 2015," ujar Presiden Direktur Harley Davidson, Djonnie Rahmat dalam keterangan persnya di Jakarta, Jumat (5/2).

Djonnie menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi salah satu alasannya. Selain itu, dia menyebut kebijakan pemerintah terkait kenaikan pajak hingga 300 persen serta kenaikan tarif PPh 22 impor dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen.

"PP nomor 22 tahun 2014 tentang kenaikan pajak penjualan barang mewah dari 75 persen menjadi 125 persen dan PMK No 90/PMK.03/2015 tentang penetapan tarif PPh 22 Barang Mewah untuk motor besar dengan kapasitas mesin di atas 500 cc dari 0 persen menjadi 5 persen kemudian, PMK no 132/PMK.010/2015 tentang kenaikan tarif bea masuk motor besar dari semula 30 persen menjadi 40 persen menjadi faktor yang membuat kelesuan di industri motor besar," jelas dia. Demikian dilansir dari berbagai sumber.

(Nay)
Komentar