5 Kebohongan Seks Remaja, Awas Tertipu!

Selasa, 13 Oktober 2015 06:00
5 Kebohongan Seks Remaja, Awas Tertipu!Ilustrasi pasangan muda @popculturerevolt.com
Seks yang masih merupakan tabu di Indonesia tak menjadi penghalang bagi para anak muda melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh suami istri tersebut.

Berbeda dengan orang dewasa terutama yang sudah menikah menjadikan seks sebagai sebuah kebutuhan batin, para anak muda ini umumnya melakukan seks karena rasa penasaran dan juga terkena bujuk rayu dari beberapa kebohongan tentang hubungan seksual.

Seperti diungkap oleh Paulus Subiyanto, konsultan pemberdayaan relasi suami-istri, para anak muda kerap kali terperdaya dengan 5 kebohongan mengenai seks berikut ini hingga akhinya terjebak dalam hubungan terlarang tersebut.

1. Seks Sebagai Bukti Cinta

Di usia remaja, eksistensi diri serta rasa dibutuhkan menjadi hal yang paling dicari. Terutama untuk remaja putri. Mereka pun mencoba-coba untuk berpacaran, dan dengan alasan cinta, rela melepaskan mahkotanya pada sang kekasih.

Ini dianggap oleh Paulus sebagai salah satu bentuk perasaan diinginkan tersebut. Padahal, cinta tak dapat dibuktikan hanya melalui sebuah hubungan seksual.

Penting ditekankan pada para remaja bahwa seks berkaitan dengan tanggung jawab dan komitmen yang tinggi. Bukan cinta.

2. Seks untuk Merasa Mampu

Bukan hanya remaja putri yang haus eksistensi, remaja pria pun tak jauh berbeda. Mereka seakan bernafsu melakukan hubungan seks sebagai bukti dirinya merasa mampu. Ini akan membuat perasaannya tinggi diantara teman-temannya yang mengggap dirinya hebat.

Padahal sebenarnya, seks sebelum waktunya akan meninggalkan rasa tak berharga, belum lagi akibat yang dibawa seperti kehamilan dan penyakit kelamin.

Terlalu mahal untuk sebuah aksi membanggakan diri. Membuktikan eksistensi bukan dengan siapa yang sudah berhubungan seks siapa yang belum, tapi lebih pada prestasi dan bangunan karakter yang kuat.

3. Seks Harus Dicoba

Ada suatu pandangan keliru dikalangan remaja bahwa seks harus dilakukan dengan latihan terus menerus. Agar nantinya saat sudah menikah, sudah jago.

Pola pemikiran seperti ini merendahkan hakikat seks dalam pernikahan yang suci. Dan juga, seks merupakan satu insting paling kuat pada makhluk hidup yang tak perlu dipelajari dengan keterampilan khusus.

4. Seks Memperkokoh Hubungan

Dalam hubungan cinta antar remaja, sering ada pendapat bahwa seks dapat membuat hubungan dengan kekasih lebh harmonis dan kokoh. Mungkin mereka menyadur dari anggapan bahwa seks merupakan salah satu elemen penting keharmonisan rumah tangga.

Tapi perlu dipikirkan lagi bahwa dalam rumah tangga pun, seks bukan segalanya dan tak menjamin kekokohan sebuah hubungan suami istri. Cinta, komitmen, tanggung jawab, dan rasa keterikatan batin membuat suatu hubungan lebih kokoh dan langgeng.

5. Seks Mendewasakan

Menurut para kawula muda, seseorang yang sudah atau bahkan sering berhubungan seks dinilai memiliki sikap yang lebih dewasa. Ini lah yang akhirnya membuat mereka berlomba-lomba melakukan seks agar lekas menjadi dewasa. Padahal tentu saja ini salah besar.

Jelas, kedewasaan diri tidak ditentukan oleh apakah seseorang sudah berhubungan seks atau tidak. Atau apakah seseorang sudah banyak berhubungan seks atau tidak.

Kedewasaan seseorang ditentukan oleh banyak hal. Kualitas pribadi inilah yang menentukan apakah seseorang bisa disebut dewasa, misalnya berani bertanggung jawab dengan apa yang telah dilakukan.
(De)
Komentar