China Mata-matai Indonesia Sejak 10 Tahun Lalu

Jum'at, 29 Mei 2015 10:30
China Mata-matai Indonesia Sejak 10 Tahun LaluIlustrasi @heraldrecorder.org
FireEye, perusahaan keamanan komputasi membeberkan fakta mengejutkan dalam sebuah laporan yang berjudul "Apt 30 and Mechanics of a Long-Running Cyber Espionage Operation."

Dalam laporan itu FireEye mengklaim telah menemukan bukti operasi spionase cyber yang didalangi oleh pemerintah China terhadap negara Asia Tenggara dan India, termasuk Indonesia.



China disebutkan telah melakukan operasi intelijen yang tujuannya menyadap dan mencuri data rahasia dengan target pemerintahan yang berkuasa, informasi militer, ekonomi, perbankan, hingga jurnalis.

Bryce Boland, Chief Technology Officer FireEye untuk wilayah Asia Pasifik, mengatakan, "Teknik serangan canggih seperti yang digunakan di operasi APT 30 ini membuktikan bahwa ada dukungan dari suatu negara, dan dampaknya dapat mempengaruhi berbagai lembaga pemerintahan maupun organisasi di Indonesia."

Bahkan tindakan spionase terhadap negara-negara di wilayah Asia Tenggara itu disebutkan telah dilakukan selama sepuluh tahun sejak tahun 2005. Selama itu negara asing telah menguasai sejumlah data-data rahasia dan penting dari negara di kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Dalam kesempatan konferensi pers yang berlangsung kamis (28/5) kemarin, Boland mengatakan, "Target mereka adalah mendapatkan informasi yang berkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan pemerintah Cina untuk intelijen mereka, yaitu isu politik, ekonomi, dan militer, wilayah sengketa, dan diskusi yang berhubungan dengan legitimasi Partai Komunis China."

Menurut Boland, fakta tersebut telah membuktikan jika kelompok hacker bisa membahayakan berbagai lembaga di negara tertentu secara terus-menerus tanpa diketahui.

"Kenapa aksi spionase cyber ini dikaitkan dengan pemerintah China? Pertama, kami memiliki intelijen yang bisa dipercaya. Kedua, infrastruktur dan tools (termasuk malware) yang mereka gunakan berbahasa China, serta yang ketiga, tools-nya sangat identik dengan kelompok-kelompok hacker asal China," tutup Boland.
(mks)
Komentar