Napi Lapas Kerobokan Jadi 'Big Boss' Jaringan Prostitusi Online

Kamis, 21 Mei 2015 21:45
Napi Lapas Kerobokan Jadi 'Big Boss' Jaringan Prostitusi OnlinePSK terjaring razia satpol PP @detik.com

Terungkapnya prostitusi online yang menyeret nama artis seolah membuka pintu lain menguak lebih jauh bisnis haram tersebut. Tak hanya dilakukan via dunia maya, jaringan bisnis esek-esek juga menyasar kehidupan di balik tembok penjara di Bali.

Kepolisian Bali meringkus Lely Novida alias Memey (34) mucikari Bali asal Sumatera, Selasa (19/5) dini hari. Dari koleksi PSK yang dia miliki, Lely juga menawarkan PSK wanita asing.

"Umumnya sih orang China, soal China Indonesia atau asli itu yang belum dapat kita buktikan. Bahkan ada beberapa bule yang juga dipasarkan," jelas seorang sumber yang enggan disebutkan namanya.

Tarif yang Memey patok cukup mahal, yakni Rp 4 juta hanya untuk menemani coffe break. Jika untuk layanan tambahan, pelanggan tentu merogoh kocek yang lebih dalam lagi. "Berapa per pelanggan seluruhnya relatif tergantung jam order. Dari satu jam hingga 24 jam beda harganya. Khusus bule dan China hanya maksimal 2 jam," kata sumber itu.

Kasat Polresta Denpasar, Kompol I Nengah Sudhiarta, membenarkan jika Memey mempunyai stok PSK wanita asing.

"Tidak hanya lokal juga ada sederetan orang asing (bule dan China) juga ditawarkan," ucap Kompol Sudhiarta.

Dalam menjalankan bisnisnya, Memey ternyata tidak sendiri. Dia mempunyai bos besar yang mengatur bisnis prostitusi terselubung itu. Fakta mengejutkan sebab bos besar Memey masih berstatus sebagai narapidana di Lapas Kelas IIA Kerobokan, Denpasar.

"Dia napi narkoba berinisial IVN (30). Meski berada di dalam lapas, IVN mengetahui setiap transaksi yang terjadi," kata Sudhiarta.

Untuk soal penentuan harga kencan PSK, IVN memegang kendali penuh, sementara Memey yang memegang data para wanita tersebut.

"Jadi setiap ada transaksi, bosnya yang di Lapas tetap mengetahui. Kalau harga cocok dan pas, bosnya tidak komentar. Terkadang bosnya juga bisa mengendalikan dalam transaksi dan memastikan bahwa jaringan pemasaran lewat BBM, SMS dan FB," ungkapnya.

Secara terpisah, Kepala Lapas Kelas IIA Kerobokan, Sudjonggo, mengaku kaget ada napi di lapasnya yang terlibat prostitusi online kelas atas tanpa sepengetahuannya. Dia mengatakan akan mengecek kebenaran hal itu.

Kompol Sudhiarta menjelaskan, para PSK itu rata-rata berusia 25-30 tahun. Dalam aksinya, mereka menggunakan kedok bisnis pijat.

IVN sendiri dibekuk setelah anak buahnya berhasil tertangkap dalam sebuah operasi penggerebekan di hotel saat bersama pelanggan. "Kami tangkap di rumah kontrakannya," ungkap Sudharta.

Polisi menyita ponsel genggam dan mengantongi sejumlah nama wanita yang masuk dalam jaringannya. "Dari pengakuannya, dia baru tiga bulan menjalankan bisnis itu. Kita akan melakukan penyelidikan lebih lanjut," pungkasnya.

(Nay)
Komentar