Menguak Ilmu Mistis dan Hari Sial Begal

Jum'at, 13 Maret 2015 16:45
Menguak Ilmu Mistis dan Hari Sial BegalIlustrasi @tribunnews.com

Kepolisian Resor Kota Depok akhirnya berhasil meringkus gembong pimpinan begal sadis bernama Sartadji alias Aji.

Penangkapan Aji ini cukup merepotkan pihak kepolisian. Pasalnya, Aji cukup licin dan selalu berpindah-pindah tempat saat beraksi. Alhasil polisi dibuat kesulitan mendeteksi keberadaannya selama ini.

Hingga akhirnya setelah melakukan pengintaian dalam beberapa waktu, pasukan Reskrim Polresta Depok dapat membekuk kelompok Aji di tempat persembunyian mereka di Kecamatan Parung, Bogor, pada Sabtu (7/3) pekan lalu.

Belakangan diketahui jika hari Sabtu menjadi pantangan bagi para begal untuk beraksi sebab dipercaya sebagai hari sial jika tetap dilanggar.

Kepala Unit (Kanit) pencurian kendaraan bermotor, Polresta Depok, AKP Martinus Cahyo, menjelaskan jika kelompok Aji membekali dirinya dengan semacam ilmu mistis.

"Enggak, mereka enggak ada ilmu kebal atau ilmu gaib. Tapi memang mereka punya hari di mana mereka pantang melakukan aksi kejahatan. Yang saya tahu dari pemeriksaan, mereka ini pantang beraksi di hari Sabtu. Katanya kalau Sabtu bisa bikin apes atau sial," ungkapnya, dilansir dari Viva.

Sartadji ditangkap beserta dua kaki tangannya, Badrul alias Dengke, Ahmat Jaelani, Angga Andriyansyah, Rama alias Tebo.

Aji dipercaya sebagai kepala begal sebab telah beraksi selama tahunan. Selain itu, dia merupakan penjahat kambuhan yang dua kali mendekam di Lembaga Pemasyarakat (LP) Paledang, Bogor.

Dalam aksinya, kelompok Aji bisa dikatakan cukup bermodal sebab harus menyewa mobil Avanza saat beraksi. Mobil sewaan itu lantas dimodifikasi agar memiliki ruang cukup untuk menampung motor hasil rampasan.

Untuk sekali beraksi, mereka bisa menggasak 2-3 motor. Kebanyakan yang menjadi incarannya adalah motor jenis matic.

"Mereka juga membawa senjata tajam seperti golok, gunting dan sangkur. Ini mereka gunakan kalau korban atau masa berupaya melawan," kata Kapolresta Depok Komisaris Besar Ahmad Subarkah.

(Nay)
Komentar