Obat Impoten: Bayi Buaya, Torpedo Kambing, Viagra

Rabu, 04 Maret 2015 13:00
Obat Impoten: Bayi Buaya, Torpedo Kambing, Viagrailustrasi impoensi @foodnhealth.org

Jika pada era yang sudah modern ini viagra dikenal obat anti impotensi, maka jauh sebelum viagra sudah ada banyak jenis pengobatan yang sudah dicoba. Berbagai cara untuk gangguan sulit ereksi pun sudah dicoba oleh kaum pria sejak zaman dahulu.

Para pria yang penisnya sulit ereksi, dalam pengobatan Tiongkok kuno dilakukan pengobatan dengan cara tusuk jarum. Sementara menurut zaman mesir kuno, yang menyebabkan impotensi adalah iblis, dan cara mengobatinya adalah dengan cara menggosokkan penis pria pada bayi buaya.

Mengonsumsi ular, buah zakar atau torpedo kambing dan ayam jantan adalah cara yang dilakukan oleh orang Yunani kuno.

Pada zaman pertengahan, orang-orang lebih percaya bahwa penyihir adalah penyebab seorang pria impotensi.

Pada sekitar tahun 1600-an, sebagian orang menganggap bahwa pengobatan untuk mengatasi impotensi yang paling baik yaitu dengan cara sentuhan seorang wanita. Dan pada tahun 1700 1800, ditemukkan ramuan berbentuk balsem yang terdiri dari jahe, kulit jeruk, zinc, kokain, asam cukal, brandy, ganja, dan masih banyak lagi, untuk mengatasi berbagai masalah yang di alami pria.

Sementara pada era 1770-an, di mana pada masa itu listrik banyak sekali digunakan di berbagai bidang, pengobatan menggunakan listrik pada pria yang mengalami impotensi pun di coba waktu itu.

Operasi pertama yang sukses mengatasi disfungsi ereksi dilakukan pada tahun 1873, dengan cara menyumbat pembuluh darah yang mengeringkan darah dari penis, oleh seorang dokter bersal dari Italia.

Selanjutnya pada tahun 1919, jaringan testis pada monyetpun di cangkokkan ke manusia oleh dokter dari Rusia. Namun cara ini tidak dapat mengatasi impotensi. Dari operasi tersebut memicu banyaknya operasi transplantasi jaringan ke manusia, dari donor rusa, kambing bahkan mayat.

Tahun 1935, Ilmuan menemukan testosteron, yang kelak akan menjadi fokus dari pengobatan impotensi atau disfungsi ereksi. Kemudian pada tahun 1960-an, kenyataan bahwa hewan banyak yang memiliki tuilang penis, hingga dokter mendapat ide untuk mencangkokkan tulang tersebut ke manusia.

Pada tahun 1973, ditemukan metode baru masih digunakan sampai saat ini yaitu menciptakan pompa untuk memicu ereksi pada pria.

Di tahun 1980-an secara tak sengaja dokter di Prancis menyuntik penis pasiennya dengan obat papaverin dan menghasilkan ereksi spontan, dengan ini lahirlah pengobatan injeksi pada penis.

Ditemukannya viagra adalah tahun 1998, sangat efektif untuk mengatasi disfungsi ereksi, namun obat ini tidak bekerja pada setiap pria, dan juga memiliki efek samping seperti urine berdarah.

Pada tahun 2000, tim ilmuan menemukan bahwa gigitan laba-laba beracun asal Brasil dapat menyebabkan ereksi yang bisa bertahan lama. Protein PnTx2-6 yang ditemukan dalam kandunganbisa tersebut diketahui dapat mengatasi disfungsi ereksi.

Bahkan protein dari laba-laba ini dapat di isolasi oleh para ahli dan dilakukan percobaan pada tikus, dan sukses menghasilkan ereksi. Memang percobaan ini baru tahap awal, namun sangat menjajikan untuk dijadikan obat generasi terbaru menangani impotensi.

Memang belum ada jaminan pengobatan yang efektif untuk impotensi, namun harapan besar ilmuan masih ada guna menemukan obat yang di tunggu kaum pria di seluruh dunia.

(MKS)
Komentar