Tongkat Pusaka Diponegoro 'Kanjeng Kyai Tjokro' Dikembalikan Belanda

Rabu, 11 Februari 2015 16:15
Tongkat Pusaka Diponegoro 'Kanjeng Kyai Tjokro' Dikembalikan BelandaMendikbud Anies Baswedan memegang tongkat pusaka Pangeran Diponegoro @kompas.com

Tongkat pusaka Pangeran Diponegoro yang disimpan selama 183 tahun oleh keluarga Baud di Belanda telah dikembalikan. Pusaka itu berbentuk setengah lingkaran atau cakra.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mewakil pemerintah Indonesia menerima secara langsung Pusaka Pangeran Diponegoro itu dari Keluarga Baud. Penyerahan itu dilakukan pada acara pembukaan lukisan 'Aku Diponegoro'.

"Saya bersyukur, bangga, dan terharu, serta tidak menyangka bisa mewakili bangsa menerima kembali tongkat pusaka Pangeran Diponegoro," demikian disampaikan Mendikbud saat menerima secara resmi Pusaka Pangeran Diponegoro, di Galeri Nasional, Jakarta, Kamis (5/2), dilansir dari Merdeka.

Tongkat Pusaka itu saat ini dipamerkan dalam pameran lukisan 'Aku Diponegoro', yang akan berlangsung hingga 8 Maret 2015.

Keluarga Baud menceritakan sejarah singkat Tongkat Pusaka Pangeran Diponegoro selama di Belanda. Sang ahli waris, Jean Chretien Baud, menyerahkan pusaka Pangeran Diponegoro yang bernama tongkat Kanjeng Kyai Tjokro (Cakra).

Tongkat itu diterima luluhur Baud pada tahun 1834. Saat itu penyerahan tongkat untuk meredam periode yang bergejolak akibat adanya persaingan politik dan hubungan dengan kekuasaan kolonial Belanda.

Seiring berjalannya waktu, setelah ayah Jean meninggal pada 2012, tongkat itu kemudian disimpan di rumah saudara perempuannya, Erica. Namun pada bulan Agustus 2013, pihak keluarga Baud dihubungi oleh Harm Steven dari Rikjsmuseum yang menjelaskan asal usul tongkat itu. Berdasarkan penelitian para ahli, tongkat itu dinyatakan benar pernah dimiliki oleh Pangeran Diponegoro.

Sebagai ahli waris, Keluarga Baud sadar betapa pentingnya penemuan ini dan bertanggung jawab merawat tongkat pusaka bersejarah itu.

Pihak Kaluarga baud berharap penyerahan tongkat pusaka Pangeran Diponegoro menjadi momentum penting di era baru untuk saling menghormati, persahabatan, dan kebersamaan.

(Nay)
Komentar