Siti Afidah, Anak Buruh Tani Jadi Wisudawati Terbaik di UIN Walisongo

Sabtu, 31 Januari 2015 09:30
Siti Afidah, Anak Buruh Tani Jadi Wisudawati Terbaik di UIN WalisongoSiti Afidah didampingi orang tuanya @merdeka.com

Siti Afidah (22) anak buruh tani menjadi wisudawati terbaik dengan meraih indeks prestasi (IP) 3,84 di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Kamis (29/1).

Anak dari pasangan Baidhowi dan Aminah asal Brangsong Kabupaten Kendal, Jawa Tengah ini mulai duduk di bangku kuliah sejak 2010 untuk jurusan Muamalah di Fakultas Syariah. Siti Afidah pun selama kuliah mendapat beasiswa pemerintah melalui program Bidik Misi, hingga lulus dan berpredikat cumlaude.

Atas skripsinya yang berjudul 'Analisis Hukum Islam Terhadap Praktik Pemberian Bonus Pada Produk Simpanan Berkah Plus (Deposito Mudarabbah) di BMT "Taruna Sejahtera" Jatisari, Mijen, Kota Semarang', Siti ingin menjadi pengajar sekaligus pengusaha.

Meski berasal dari keluarga pas-pasan tidak membuat cita-cita Siti melanjutkan pendidikan ke-S2 surut.

"Kalau ada kesempatan untuk S2 ya masih pengen sekolah lagi. Jurusannya inginnya linear dengan S1 saya. Lebih ingin menekuni ekonomi hukum Islamnya. Mungkin karena sudah menikmati dengan jurusan itu. Ingin menggali lebih dalam. Terkait dengan lembaga keuangan Islam banyak sekali di Indonesia. Saya ingin menekuni itu," tegasnya.

Siti beruntung sebab pihak kampus UIN Walisongo Kota Semarang memberinya kesempatan melanjutkan pendidikan magister dengan fasilitas beasiswa.

"Itu kalau di UIN Walisongo tempat saya kuliah dan diwisuda benar katanya yang terbaik atau cumlaude itu free bebas biaya kuliah S2 nya nanti," katanya.

Saat ditanya apakah pemerintah akan membantu Siti mengenyam pendidikan lanjutan ke luar negeri, seperti Kairo, Arab Saudi atau Mesir, dirinya mengaku tidak mau terlalu banyak berharap.

"Itu bonus tambahan lagi. Saya tidak mau terlalu muluk-muluk lah," jelasnya.

Baginya, menjadi pendidik bisa memberikan kebahagian secara lahir dan batin sehingga memberikan ketenangan.

"Pendidikan penting banget menurut saya. Transformasi ilmu ke orang lain prosesnya sangat panjang. Bisa memberikan kebahagiaan lahir batin. Lahirnya bisa tercukupi kebutuhan ekonominya. Secara batin hatinya tentram, damai dan bahagia," ucapnya.

"Belum punya pandangan apa nanti usaha apa yang saya tekuni. Saya lebih ke edukasi. Kayak dosen saya selama jadi dosen, mereka ada yang jadi pengacara, ada yang jadi pemilik BMT. Pokoknya seputar masih pendidikan keinginan saya," imbuhnya. Demikian dilansir dari Merdeka.

(Nay)
Komentar