Kopilot Pegang Kendali Saat Pesawat AirAsia QZ8501 Jatuh

Jum'at, 30 Januari 2015 17:30
Kopilot Pegang Kendali Saat Pesawat AirAsia QZ8501 JatuhWSJ sebut kopilot di balik jatuhnya AirAsia QZ8501 @wsj.com
Penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 masih diselidiki. Muncul dugaan jika kopilot di balik kendali saat pesawat terjatuh. The Wall Street Journal menerima informasi ini secara langsung dari dua orang narasumber terdekat yang melakukan penyelidikan.

Berdasarkan keterangan narasumber, kopilot terkejut atau bingung yang membuatnya melakukan tindakan yang mengakibatkan pesawat Airbus A320 berada di ketinggian maksimum, menanjak dengan cepat sebelum terhenti dan menukik tajam, hingga jatuh ke laut.

"Pihak berwenang Indonesia, menurut kedua orang tersebut, menyelidiki apa yang menyebabkan kopilot itu terkejut atau bingung dan pada akhirnya mengakibatkan hidung pesawat Airbus A320 itu menanjak dalam sudut yang tidak wajar. Penyelidik juga mencari tahu apakah sistem perlindungan dari pesawat mengalami kerusakan atau bahkan tidak aktif," tulis The Wall Street Journal, Rabu (28/1/2015).

Dua orang yang memberikan keterangan kepada The Wall Street Journal mengungkapkan jika rekaman data penerbangan mengindikasikan jika kopilot memegang kendalipesawat dan menaikkan hidung pesawat, namun belumdiketahui apakah kopilot juga mengendalikan pesawat saat memasuki cuaca buruk.

"Setelah menyelidiki kotak hitam selama dua pekan, penyelidik yakin bahwa kopilot Remi-Emannuel Plesel (warga Prancis kelahiran Martinique), berada di balik kendali ketika pesawat bermanuver untuk menghindari badai pada 28 Desember. Pesawat tengah dalam perjalanan dari Surabaya menuju Singapura," lanjut The Wall Street Journal.

Remi-Emannuel Plese beralih profesi dari teknisiperusahaan minyak Total SA menjadi pilot, yang merupakan impian masa kecilnya. Dirinya memiliki 2.200 jam terbang, bersama AirAsia, sejak tiga tahun yang lalu.

Sedangkan, Kapten Irianto, adalah mantan pilot jet tempur yang memiliki pengalaman terbang hampir 10 kali lipat dari Plesel, dan 6.000 jam terbang dengan bersama AirAsia.

"Turbulensi diyakini turut berkontribusi dalam upaya pesawat menanjak secara dramatis. Tetapi penyelidik masih terus memeriksa interaksi antara perintah pilot dan sistem kendali pesawat oleh komputer, ketika pesawat menambah ketinggiannya dan meluncur dengan tajam,"

"Peringatan otomatis dari pesawat terdengar dalam rekaman suara kokpit di saat kopilot dan pilot berjuang untuk memegang kendali pesawat," jelas penyelidik.

Ahli keamanan AirAsia menekankan jika terlalu dini untuk mengambil kesimpulan dari dugaan ini.

Ada ucapan spesifik terkait jatuhnya pesawat, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Perhubungan, pesawat AirAsia QZ8501 naik hingga ketinggian 5.000 kaki dalam waktu 30 detik dan melakukan perubahan arah sebanyak dua kali, sebelum turun dalam kecepatan tinggi dan masuk dalam kondisi udara spiral.
(ec)
Komentar