Sukses Babat Koruptor, Gaji PNS Tiongkok Naik 62 Persen

Kamis, 22 Januari 2015 11:00
Sukses Babat Koruptor, Gaji PNS Tiongkok Naik 62 PersenPresiden Xi Jinping @shanghaiist.com

Semua pegawai negeri sipil di Tiongkok tidak bisa menyembunyikan senyum cerahnya ketika Presiden Xi Jinping meneken keppres kenaikan gaji. PNS secara merata, dari yang paling rendah sampai Presiden menikmati kenaikan gaji pokok sebesar 62 persen.

Kementerian Sumber Daya Manusia dan Jaminan Sosial China menjelaskan, kenaikan gaji PNS itu untuk menggenjot kinerja abdi negara dalam melayani masyarakat. Kebijakan itu diharapkan menjadi semangat tambahan untuk menyelesaikan tugasnya. Selain itu, kebijakan ini tak lepas dari keberhasilan Presiden Xi Jinping memberantas koruptor hingga di tubuh birokrasi pemerintahan.

Sebelumnya, PNS golongan rendah di Tiongkok menerima gaji pokok sebesar 630 Yuan atau setara Rp 1,2 juta. Ditambah insentif dan bonus, mereka bisa mengantongi 1.000 Yuan sebulan. Jumlah itu bahkan lebih rendah dari Indonesia, di mana PNS golongan I dengan pengalaman kerja nol mendapat gaji Rp 1,4 juta di luar tunjangan.

Atas keputusan presiden yang diteken, kini PNS Tiongkok mendapatkan gaji minimal 1.320 Yuan atau setara Rp 2,6 juta. Dengan tambahan insentif, dalam sebulan mereka bisa membawa pulang 5.000 Yuan atau setara Rp 10 juta.

Diharapkan kenaikan gaji itu bisa menghilangkan budaya korup di tubuh pemerintahan selama ini.

Pemerintah Tiongkok sejak 2013 lalu melakukan 'Operasi Perburuan Rubah'. Operasi itu berisi penyidik dari Kejaksaan dan Tim Disiplin Partai Komunis China disebar ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Hasilnya, 750 Koruptor yang kabur ke Malaysia, Kamboja, Thailand, Inggris, hingga Amerika Serikat telah dipulangkan. Dari tangan mereka, pemerintah berhasil menyelamatkan US$ 1,5 miliar.

Sejak awal Januari hingga Oktober 2014 sudah ada 104 koruptor yang ditahan. Mayoritas adalah pejabat tingkat eselon atas. "Saya mengincar macan, baru berikutnya lalat," kata Presiden Jinping. Demikian dilansir dari CCTV News, Rabu (21/1).

(Nay)
Komentar