Kontroversi Jan Darmadi 'Raja Judi' Masuk Wantimpres Jokowi

Rabu, 21 Januari 2015 16:30
Kontroversi Jan Darmadi 'Raja Judi' Masuk Wantimpres JokowiJan Darmadi alias Apiang (tengah) jadi Wantimpres @tempo.co

Dominasi partai Nasional Demokrat sebagai salah satu parpol pengusung Presiden Jokowi menuai pro dan kontra. Yang paling kontroversial, salah satu kader Partai Nasdem yaitu Jan Darmadi alias Apiang ditunjuk sebagai salah satu Wantimpres.

Tidak hanya kapasitasnya sebagai politikus, Jan Darmadi dulunya dikenal sebagai "Raja Judi". Apiang adalah pemilik beberapa tempat perjudian di Petak IX, Copacobana, Lofto Fair Hailal dan Jakarta Theater di era judi dilegalkan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Tidak hanya itu, semasa Orde Baru, Jan juga terlibat dalam Porkas dan SDSB, judi bermodus undian yang sangat populer.

Jan bergabung dengan Partai Nasdem pada tahun 2012 dan memiliki hubungan sangat baik dengan sang pendiri partai dan ketua umum yaitu Surya Paloh. Di Nasdem, Jan adalah Ketua Majelis Tinggi Partai Nasdem.

Dalam situs Wikipedia disebutkan jika Jan adalah pemilik PT Jakarta Setiabudi International, Hotel Mandarin, Mercure Ancol, Jakarta Theater dan Setiabudi Building.

Guru Besar UI Protes Raja Judi Masuk Istana

Guru Besar Universitas Indonesia, Tamrin Amal Tomagola memprotes pengangkatan Jan Darmadi sebagai salah satu Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Tamrin menyampaikan protes itu di laman Facebook miliknya.

raja-judi-jan-darmadi

"Astaghfirullah, Bos Judi, Jan Darmadi alias Apiang dilantik jadi Anggota Wantimpres hari ini. Oh Jokowi, bencana apa lagi yg mau kau timpakan ke bangsa ini ? Apakah Presiden membutuhkan pertimbangan ttg judi ? Gara-gara si Brewok nih. Apiang adalah kader Nasdem," kata Tamrin.

Postingan ini kemudian dikomentari ratusan penghuni Facebook. Salah satunya Iwan Asnawi. "Juga tidak ada ahli hukum tata negara, habis lah Jokowi nanti dibully!! Semua titipan partai politik...," katanya.

Pembelaan Surya Paloh Soal Jan Darmadi

Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh, menegaskan pelantikan kadernya itu sudah tepat. Kata Paloh, latar belakang perjudian Jan tidak perlu diperdebatkan lagi.

"Tak ada yang perlu dikontroversikan. Dia tokoh yang biasa. Jarang bicara. Sudah tepat," kata Paloh di Kantor DPP Nasdem, Gondangdia, Jakarta, Rabu (21/1).

Paloh menambahkan, masa lalu Jan berbisnis judi berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Saat itu judi yang dikelola Jan sudah dilegalkan pemerintah.

"Pak Jan 45 tahun lalu, waktu kamu belum lahir. Jadi tak bisa membandingkan kondisi waktu itu dengan sekarang. Tantangan beda. Waktu itu legal," ujar Paloh.

Selain itu, imbuh Paloh, perjudian menjadi pemasukan terbesar untuk membangun daerah. Termasuk perjudian yang dikelola Jan Darmadi. "Pendapatan untuk membangun kota Jakarta waktu itu," ujarnya. Demikian dilansir dari berbagai sumber.

(Nay)
Komentar