Tiket Pesawat Murah Dihapus, Backpacker Menjerit

Jum'at, 09 Januari 2015 18:00
Tiket Pesawat Murah Dihapus, Backpacker MenjeritMenteri Perhubungan Ignatius Jonan @tempo.co

Kementerian Perhubungan menghapus tiket penerbangan murah atau Low Cost Carrier (LCC). Kebijakan ini untuk mengantisipasi maskapai mengabaikan keselamatan penumpang sebab menekan biaya operasionalnya.

Dalam sebuah kesempatan, Menteri Perhubungan Igantius Jonan mengaku heran harga tiket pesawat dijual hampir sama dengan tiket kereta api.

"Saya kasih contoh, tiket kereta api yang kelas eksekutif kan gak dikasih makan, cuma tempat duduknya sama dengan kelas ekonomi pesawat. Jakarta-Surabaya itu (waktu tempuh) 9,5 jam harganya Rp 350-450 ribu. Sekarang Anda cek, kalau ada pesawat Jakarta-Denpasar harganya Rp 300-400 ribu apa itu masuk akal? Wong kereta api itu untungnya hampir gak ada," ujar Jonan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (8/1).

"Coba tanya AirAsia dan Garuda, rugi gak operasinya selama ini? Kalau rugi terus, bahaya. Kalau tutup mendingan kan. Kalau jalan terus, kan pasti banyak yang dikorbankan," ujar Jonan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan No 91 Tahun 2014 diteken Ignasius Jonan pada 30 Desember 2014, harga penjualan tiket ditingkatkan dari 30 persen menjadi 40 persen. Sehingga nantinya maskapai penerbangan tidak lagi bisa menjual tiket promosi di bawah Rp 500 ribu. Minimal tiket dijual 40 persen dari tarif batas atas.

Bacpacker Menjerit Tiket Pesawat Minimal Rp 500 Ribu

Langkah Menteri Jonan menghapus tiket penerbangan murah memicu protes keras dari kalangan bacpacker atau traveler.

"Saya tidak setuju sih, karena alasan yang diberikan Menteri Jonan tidak relevan. Mahal tidak berarti selamat juga," ujar backpacker bernama Deffa.

"Salah satu motto backpaker kan dengan biaya seminimal mungkin mendapatkan pengalaman yang semaksimal mungkin," tambah rekannya, Ook.

Meski demikian, mereka tetap meminta harga tiket murah tetap ada dengan pelayanan kelas satu. Menurut mereka, selama ini maskapai menjual tiket murah bukan karena mengalihkan prioritas keselamatan, namun karena mengurangi pelayanan.

"Kita bisa menikmati penerbangan Rp 0 bukan berarti safety-nya 0 juga. Hanya fasilitasnya aja emang yang berbeda. Kami ingin penerbangan low cost atau biaya murah bukan berarti murahan," sambung Daffa.

"Jadi tolong biarkan kami para budget traveller membeli tiket low cost airline. Kami tidak butuh TV, makanan, dan selimut di pesawat. Kami hanya butuh alat transportasi yang efektif dan efisien," pungkasnya. Demikian dilansir dari Merdeka, Jumat (9/1).

(Nay)
Komentar