'Raja Tikus' Vietnam Bunuh Jutaan Tikus

Senin, 22 Desember 2014 17:15
'Raja Tikus' Vietnam Bunuh Jutaan TikusRaja Tikus Vietnam @ straitstimes.com
Seorang petani di Vietnam, Tran Quang Thieu berhasil menangkap ratusan tikus di sawahnya, di daerah dekat Hanoi. Ancaman bagi tanaman padi ini secara teratur ditangkap dan kadang-kadang dimakan.

Di desanya Van Binh, di pinggiran Hanoi, Thieu berburu tikus di sawah saat malam hari. Mereka memperkirakan 20 persen tanaman hilang karena dimakan lapar. Beras merupakan bagian penting dari ekonomi Vietnam, dan menjadi eksportir terbesar di dunia.

"Kami dulu harus menerima kehilangan besar sawah kami," jelas petani 46 tahun Hoang Thi Tuyet.

"Sulit untuk menjebak mereka, mereka pintar, mereka bergerak cepat dan di Vietnam ada 43 spesies yang berbeda dari tikus," kata Thieu, seperti yang dikutip dari straitstimes.com.

"Kerugian pertanian yang disebabkan oleh tikus sangat besar - dan hewan pengerat ini dapat menyebabkan kebakaran dan ledakan dengan mengunyah kabel listrik di rumah-rumah dan pabrik," kata petani berumur 70 tahun tersebut.

"Setidaknya ada 500.000 hektar sawah yang rusak olehtikus setiap tahun, dari 7,5 juta hektar. Tikus menyebabkan kerugian ratusan juta dolar." kata Hung dari Institut Ilmu Pertanian Nguyen Manh.

Namun pada tahun 1998, Tran Quang Thieumemiliki terobosan baru - ia menemukan perangkap tikus baru, lebih efektif daripada cara sebelumnya, yang bekerja tanpa umpan dan mengandalkan mata air.

Perangkap ini sudah membunuh jutaan tikus.Jadi tak heran jikaTran Quang Thieu dikenal sebagai Raja Tikus. Sayangnya, si Raja Tikus ini cukup sibuk untuk membasmi semua tikus di Vietnam.

"Kami mendapatkan permintaan untuk menangkap tikusdari seluruh negeri tetapi kita tidak bisa melayanimereka semua, kita tidak punya waktu," katanya.

Lima anaknya bergabung dalam bisnis keluarga dan di antara mereka sekarang menjalankan enam perusahaan khusus untuk perangkap tikus. Sekitar 30 juta perangkap tikus terjual, tidak hanya populer di Vietnam, namun juga digunakan di China dan Kamboja.

Perangkap tikus ini tidak dijual untuk petani saja, melainkan juga untuk rumah sakit, hotel, restoran, sekolah, hingga markas kepolisian.

"Dalam sekali jebakan, kita mampu menangkap 300kg tikus dalam satu malam di sebuah resor wisata di Hanoi," katanya bangga.

Selama beberapa tahun terakhir, populasi tikus meledak di Vietnam karena penurunan populasi predator alami mereka seperti ular dan kucing. Hal ini karena ular dan kucing menjadi hidangan populer di Vietnam.



Untuk alasan ini, banyak pemerintah daerah yang mendorong orang untuk membunuh tikus.

Di ThaiBinh, tepat di sebelah selatan Hanoi, pemerintah menawarkan uang tunai kepada petani yang menangkap tikus, hal ini bertujuan untuk mendorong mereka membunuh hama dan melindungi padi secara sederhana tanpa bahan kimia.

Pemburu tikus juga bisa mendapat keuntungan lain, tikus sawah juga menjadi salah satu makanan favorit di sana, sehingga para petani bisa menjualnya ke restoran-restoran.

Beberapa tikus yang ditangkap petaniThieu dikirim ke restoran. Sebagian lainnya diberikan kepada petani lain untuk makan atau menjadi bahan makanan babi atau ikan mereka.

"Kami sudah sangat lama makan tikus di Vietnam, terutama saat perang. Saat itulah orang-orang yang sebagian besar petani mulai makan tikus untuk mengganti kebutuhan daging lainnya," kata Thieu.

Tikus sawah biasanya diolah dalam berbagai cara tradisional tergantung pada provinsi, namun umumnya dipanggang atau dikukus dengan sereh.

"Daging tikus sangat berminyak, seperti bayibabi, dan sangat kaya akan protein," kata Do Van Phong, yang sedang duduk di sebuah restoran Hanoi dengan dua tikus sawah besar di piring di depannya.

Daging tikus telah menjadi bagian penting dari budaya lokal Vietnam."Ini hidangan umum, ada baiknya dimakan secara teratur, terutama pada acara-acara keluarga - bahkan pernikahan. Orang-orang berpikir itu membantu kita untuk menghilangkannasib buruk." kata Phan Phan, warga desa distrik Dinh Bang, bagian utara provinsi Bac Ninh.

Bahkan, media Vietnam menyebutkan jika dalam sehari terdapat tiga hingga empat ton tikus sawah diimpor ke negara tetangga Kamboja untuk restoran.
(ec)
Komentar