Ternyata Nasi Mengandung Zat Pemicu Kanker

Senin, 24 November 2014 17:30
Ternyata Nasi Mengandung Zat Pemicu Kankerberas @flickr.com

Nasi yang merupakan hasil olahan beras dikenal sebagai makanan pokok yang sangat bagus untuk pemenuhan gizi. Kandungan dalam beras dipercaya sangat bermanfaat mulai dari bebas kolesterol, kaya vitamin, mengurangi risiko tekanan darah tinggi, dan masih banyak lagi. Negara-negara Asia umumnya menjadikan beras sebagai makanan pokok, salah satunya Indonesia.

Namun, sebuah hasil penelitian terbaru berhasil menguak kandungan dalam beras yang berbahaya bagi tubuh. Kandungan tersebut yaitu zat arsenik anorganik yang diketahui merupakan salah satu penyebab kanker.

Seperti dilansir foodbeast, hasil penelitian yang dilakukan oleh Consumer Reports ini cukup meresahkan. Penemuan zat arsenik anorganik pada beras tersebut diketahui setelah peneliti melakukan uji analisis data FDA pada 656 makanan yang mengandung beras. Dan tim tersebut menemukan kandungan arsenik anorganik pada sampel yang terkait dengan berbagai jenis kanker.

Kandungan arsenik umumnya dapat ditemukan pada buah-buahan, biji-bijian dan sayuran yang berasal dari tanah dan pestisida. Padi merupakan salah satu tanaman yang bisa tumbuh karena zat-zat berbahaya tersebut. Para peneliti meyakini tanaman padi sangat mudah menyerap arsenik daripada tanaman lain.

"Kandungan arsenik dalam makanan kita adalah masalah kesehatan masyarakat yang nyata dan kami pikir penting untuk mengurangi asupannya," ujar Dr Michael Crupain, salah seorang peneliti Michael Crupain.

Jika kandungan arsenik yang berbahaya ini dikonsumsi secara terus menerus, maka akan meningkatkan risiko kanker kulit, kandung kemih, dan paru-paru.

"Kami menemukan bahwa sereal nasi dan pasta yang terbuat dari beras dapat mengandung lebih banyak arsenik daripada yang kita lihat dalam pengujian sebelumnya. Jadi, kami merekomendasikan untuk anak-anak terutama yang berusia di bawah lima tahun, agar tidak sering mengonsumsi makanan ini, yang berarti tidak lebih dari dua kali per bulan," Crupain menjelaskan.

Lebih lanjut para peneliti menjelaskan bahwa kandungan arsenik pada beras tergantung dari teknik penanaman padi yang umumnya berbeda di setiap negara. Para peneliti menemukan fakta bahwa beras dari Amerika Serikat dan basmati putih dari California, India, dan Pakistan mengandung setengah dari jumlah arsenik yang terkandung di kebanyakan jenis beras. Dimana beras merah terbukti mengandung 80% lebih banyak zat arsenik dari beras putih.

Untuk mencegah dampak buruk zat arsenik pada beras, para peneliti menyarankan untuk mengonsumsi beras sebagai nasi dan tidak mengonsumsi hasil olahan beras seperti sereal dan pasta. Mereka juga tidak menganjurkan olahan beras terutama beras merah sebagai makanan padat pertama bayi.

Meskipun menemukan zat berbahaya pada beras, namun hingga kini FDA belum menetapkan tingkat keamanan yang tepat untuk arsenik di dalam beras. Mereka juga mengakui bahwa nasi masih menjadi makanan yang aman dan mengandung sederet manfaat bagi kesehatan tubuh.

"Studi menunjukkan bahwa nasi putih, atau merah memberikan manfaat kesehatan yang terukur yang lebih besar daripada potensi risiko yang terkait dengan paparan mengenai tingkat kandungan arsenik," begitu sebuah pernyataan FDA.

(okta)
Komentar