Aksi Plagiat Desainer di Jakarta Fashion Week

Rabu, 12 November 2014 17:30
Aksi Plagiat Desainer di Jakarta Fashion WeekPlgiasi desainer Indonesia @Instagram.com

Jakarta Fashion Week (JFW) 2015 baru saja berlalu, namun sayangnya pagelaran fashion terbesar di Indonesia tersebut dihiasi dengan desain-desain hasil plagiat desainer luar negeri. Beberapa desain hasil plagiat tersebut mendapat kritikan pedas dari netizen.

Akun Instagram @nyinyirfashion dan blog resmi Dwi Sutarjantono telah mengunggah beberapa foto desain perancang busana lokal yang terbukti mirip dengan hasil desainer luar negeri. Nama-nama desainer kondang Indonesia seperti Priyo Oktaviano, Barli Asmara, Oscar Lawalata, Mel Ahyar, Denny Wirawan, Sapto Djojokartiko, bahkan Biyan terbukti mengusung rancangan desainer asing.

Pada akun Instagram @nyinyirfashion desainer Priyo Oktaviano menjadi sorotan karena telah terbukti mengadopsi rancangan desainer luar negeri tenar seperti Prabal Gurung, Alexander McQueen dan rumah mode Balenciaga. Barli Asmara juga terlihat mengusung rancangan dari Givenchy.

Mengetahui hal tersebut, Desainer sekaligus pengamat mode Musa Widyatmodjo mengatakan bahwa dalam industri mode memang belum ada tata tertib yang mengatur soal plagiarisme desain. Sehingga sah-sah saja jika rancangan desainer lain dikembangkan oleh desainer lainnya.

"Di dunia mode memang belum ada aturan yang menentukan batas tentang pencontekan," ujar Musa, dikutip dari Viva.co.id.

Meski dianggap lumrah, namun Musa juga mengatakan bahwa sebaiknya desainer tidak menciptakan rancangan dengan kemiripan lebih dari 70%, karena jika melebihi persentase kemiripan tersebut, maka desain itu benar-benar merupakan hasil plagiasi.

"Kalau miripnya sampai 70 persen, saya rasa itu bisa dibilang mencontek. Tapi ada juga kriteria lain yang harus diperhatikan seperti cutting, detail, siluet, motif, tekstur dan warna," paparnya.

Dengan adanya kasus ini, para netizen khususnya masyarakat Indonesia mulai meragukan keorisinalan ide dan konsep-konsep rancangan busana desainer dalam negeri. Terlebih lagi bersangkutan langsung dalam pagelaran akbar Jakarta Fashion Week (JFW) yang banyak dihadiri oleh desainer luar negeri.

Orang berkomentar itu ya sah-sah saja, apalagi di era sekarang yang serba digital. Orang bisa mengekspresikan pendapat mereka secara bebas di media sosial, tapi juga tidak bisa langsung menggeneralisasi bahwa semua desainer Indonesia plagiat. Itu tidak adil," papar Musa.

Musa juga menambahkan bahwa kemiripan rancangan busana desainer juga tak luput dari aksi media yang meliput dan membandingkan koleksi desainer dalam negeri dengan karya desainer dan rumah mode dari luar negeri. Inilah yang menjadikan desainer lokal cenderung berkiblat ke desain luar negeri yang tentu lebih handal.

"Kita (desainer) sering dibandingkan dengan desainer luar negeri yang di negaranya, industri modenya sudah punya sistem yang berjalan puluhan atau bahkan ratusan tahun. Itu jadi tekanan tersendiri dan membuat desainer kita lebih cenderung berkiblat pada gaya Barat," papar Musa.

Namun Musa juga menanggapi kritikan ini dengan positif. Menurutnya dengan adanya kritikan ini berarti taste dan sense masyarakat Indonesia terhadap fashion cukup tinggi, sehingga mampu memacu semangat desainer lokal untuk menghadirkan rancangan orisinil berkelas internasional.

Saya rasa ini bisa jadi pembelajaran bagi desainer Indonesia, agar lebih giat lagi mencari inspirasi yang orisinal," pangkasnya.

(okta)
Komentar