Reaksi Tubuh Manusia Ketika Patah Hati

Selasa, 11 November 2014 19:45
Reaksi Tubuh Manusia Ketika Patah Hatiilustrasi @huffingtonpost.com

Secara teori, hati manusia tak benar-benar patah ketika mengalami patah hati. Rasa sakit yang dialami ketika patah hati timbul dari kepala. Otaklah yang menimbulkan rasa sakit tersebut. Karena secara alami, otak manusia tidak menyukai penolakan.

Bukan hanya hati, saat patah hati bagian tubuh lainnya juga mengalami sakit, seperti nyeri dan ngilu di berbagai tempat. Hal ini dikarenakan saat Anda dikhianati atau mengalami penolakan, area otak yang merespons sama dengan area yang akan terstimulasi ketika mengalami sakit secara fisik.

Dr Marcelle Stastny, dalam sebuah penelitian menyebutkan bahwa saat mengalami penolakan dan pengkhianatan maka otak akan memproduksi lebih banyak hormon penyebab stres yang berimbas pada sistem kekebalan, yang menjadikan tubuh rawan terkena infeksi. Hal tersebut berbanding terbalik ketika Anda jatuh cinta. Saat jatuh cinta, otak memerintahkan tubuh mengeluarkan dopamin dan oksitosin, dua hormon yang memberikan rasa bahagia.

"Di sisi lain, saat perasaan cinta iu hilang, persediaan dopamin dan oksitosin dalam tubuh menyusut dan membuat otak lebih banyak memproduksi hormon penyebab stres, seperti kortisol,"ujarnya, dikutip dari Health24.

Saat Anda mengalami patah hati, tubuh Anda tidak bisa membedakan rangsangan yang mengancam secara fisik atau emosional. Sedangkan otak terus memproduksi hormon stres yang secara normal digunakan otak sebagai bahan bakar mengatasi keadaan darurat atau mengancam.

Karena itulah otak secara terus-menerus memproduksi hormon kortisol dan membuat tubuh mengakumulasi hormon stres tersebut. Lama-kelamaan hormon kortisol ini akan membuat otak mengirim lebih banyak darah ke otot untuk bersiap menghadapi aksi cepat. Padahal, Anda tidak bersiap untuk berkelahi atau berolahraga. Inilah mengapa ancaman emosional, seperti patah hati, umumnya bertahan lebih lama daripada ancaman fisik.

Karena otak terus memompa darah ke otot sedangkan kita tak membutuhkannya, maka otot tubuh membengkak dan Anda merasakan nyeri di semua tempat. Tak hanya itu, ketika patah hati tekanan darah memang terbukti meninggi dan sering menyebabkan sakit kepala dan kaku leher. Ketegangan itu juga membuat dada Anda terasa seperti diremas.

"Kesimpulannya, saat patah hati, tubuh mengalami reaksi yang sama seperti ketika Anda sedang stres," terang Statsny.

Oleh karena itulah, obat yang paling manjur untuk patah hati adalah sama dengan obat stres.

"Mengonsumsi makanan kaya vitamin B bisa mengurangi kadar kortisol dalam tubuh, begitu juga dengan aktivitas menenangkan seperti meditasi," ujar Statsny.

Agar tak terus mengingat-ingat masa lalu, Anda bisa mengalihkan perhatian Anda kepada hal-hal positif seperti berolahraga. Karena selain dapat mengalihkan perhatian, olahraga juga mampu menurunkan kadar kortisol dalam tubuh dan merangsang otak memproduksi lebih banyak endorfin.

"Hindari mengunci diri dalam kamar dan mengenang masa-masa indah. Hal itu justru membuat tubuh lebih stres dan memperburuk kesehatan," ujar Statsny.

(okta)
Komentar