Alasan Sebenarnya Israel Serang Gaza Palestina?

Selasa, 12 Agustus 2014 12:15
Alasan Sebenarnya Israel Serang Gaza Palestina?Tentara Israel dalam operasi militer di Gaza @caravandaily.com

Musa al-Gharbi, peneliti The Southwest Initiative for the Study of Middle East Con flicts (SISMEC) awalnya menyebut banyak pihak menduga Hamas sebagai pemicu perang di Gaza karena menembakan roket ke Israel.

Dugaan tersebut diperkuat dengan sikap Amerika Serikat (AS), di mana Presiden Barack Obama telah menyetujui oeprasi militer Israel ke Gaza. Obama menyebut langkah Israel tersebut sebagai pembelaan diri dari serangan roket, namun Musa menilai alasan tersebut terlalu problematis.

Musa menyebut dalam tulisannya, Israel, Not Hamas, Orchestrated The Latest Conflict In Gaza, di laman Aljazeera, mengajak melihat rangkaian peristiwa tersebut sejak awal, sehingga bisa menemukan di mana letak masalahnya.

Musa kemudian menunjuk peristiwa penculikan yang disertai pembunuhan tiga remaja Israel sebagai awalnya. Kasus tersebut kemudian berkembang menjadi sikap anti-Arab dikalangan warga Israel yang lalu memprovokasi Hamas untuk membuka konflik baru.

Pasca penguburan tiga remaja tersebut, sejumlah warga Israel kemudian menghajar dan membakar sampai mati seorang remaja Palestina, Muhammad Abu Khdeir (16). Insiden ini berlanjut dengan pembunuhan brutal remaja Palestina lainnya, Tariq Khdeir (15), oleh militer Israel. Muhammad dan Tariq masih terhitung sepupu.

Musa menambahkan, fakta lainnya, beberapa jam setelah tiga remaja Israel itu diculik, para pejabat Israel mengaku telah mengetahui bahwa ketiganya telah tewas. Kendati demikian, Israel tetap melakukan Operasi Brother Keeper di Tepi Barat. Ini merupakan operasi penyelamatan palsu, sedangkan target sebenarnya adalah para pemimpin Hamas di Tepi Barat.

Israel yang telah mengetahui ketiga remaja tersebut telah tewas tetap mengirim ibu-ibu ketiga remaja itu untuk menemui Dewan HAM PBB, meminta agar ketiga remaja itu diselamat kan. Langkah ini dilakukan untuk membangkitkan simpati dunia.

"Ini adalah eksploitasi yang sinis terhadap tragedi, yang dilakukan untuk membangkitkan kemarahan publik, dan mengadang Hamas. Israel telah sejak awal mengidentifikasi bahwa Hamas maupun sayap militernya tidak terlibat dalam penculikan. Meski demikian Israel tetap melakukan operasi di Tepi Barat dan Gaza."

Konflik di Gaza ditengarai telah didesain sejak awal. Hal tersebut bahkan terlihat pada pertengahan Juni lalu, Israel tiba-tiba memindahkan baterai-baterai Iron Dome-nya ke selatan Israel (dekat Jalur Gaza). PM Netanyahu juga mengajak Presiden Mahmud Abbas untuk mem batalkan pemerintahan bersama dengan Hamas. Sementara itu, militer Israel mulai memanggil pasukan cadangannya untuk serangan darat.

"Semua provokasi ini dilakukan beberapa pekan sebelum Hamas menem bakkan roket pertamanya ke Israel. Jadi, tak seperti yang diklaim Obama dan media Barat, dalam kasus ini Hamas lah yang melakukan aksi self defence. Israel yang mencari perang ini, dan Hamas mem berikannya kepada mereka," kata Musa.

Target Israel Sesungguhnya

Abdallah Schleifer, jurnalis veteran AS di Timur Tengah, menulis al-Arabiya bahwa target Israel sesungguhnya adalah merusak pemerintahan bersatu Fatah-Hamas.

Lewat tulisannya, Why is Inter national Media Changing Sides on the Gaza Crisis?, Abdallah yang juga profesor emeritus di American University di Kairo menyatakan, "Berbagai upaya Netanyahu dilakukan untuk memprovokasi agar terjadi serangan roket dari Hamas, sehingga bisa memulai perang. Tampaknya, ini dimaksudkan untuk menghancurkan pemerintahan bersatu Fatah-Hamas."

Dengan semakin banyak pihak menyambut pemerintahan untuk bersatu, termasuk Amerika, Abdallah mengatakan, dengan gempurannya ke Gaza kali ini, Netanyahu seakan meledek Amerika yang telah menyatakan akan bekerja sama dengan pemerintahan bersatu Palestina itu, alih-alih mensabotasenya.

Abdallah juga mengatakan, dengan bersatunya Fatah-Hamas yang berkomitmen pada solusi dua negara (two state solution), memang akan akan membuat posisi Palestina lebih kuat dalam berbagai negosiasi perdamaian dengan Israel. Dan, ketika pembicaraan damai itu dilakukan, maka pembukaan blokade atas Gaza, akan menjadi salah satu topik utama negosiasi.

Merunut kebelakang, upaya rekonsiliasi Hamas-Fatah, dikecam oleh Netanyahu. Baik yang terjadi di Kairo, Doha, hingga Gaza City.

PM Netanyahu bersikukuh menghalangi republik Palestina bersatu, dan rencana menggelar pemilu yang dikhawatirkan akan menambah kekuatan Palestina untuk menentang Israel yang dipimpinnya.

(Nay)
Komentar