Pelayan Restoran di Jepang Belajar Siapkan Makanan Halal untuk Turis Muslim

Jum'at, 11 Juli 2014 14:45
Pelayan Restoran di Jepang Belajar Siapkan Makanan Halal untuk Turis MuslimPelayan di rumah makan Jepang @chekyang.com

Seiring meningkatnya kunjungan wisatawan muslim ke Jepang, banyak mushola, jilbab dan makanan halal bermunculan di Negeri Sakura tersebut.

Penduduk Jepang memiliki warga muslim minoritas sebanyak 100 ribu orang.

Namun hal tersebut tidak menghalangi pariwisata Jepang untuk mengoptimalkan tradisi yang tidak familiar demi meningkatkan kunjungan wisatawan. Pemerintah Jepang telah berusaha menaikan kunjungan wisatawan asing hingga dua kali lipat pada tahun 2020, dilansir dari Tribunnews, Kamis (10/7/2014).

"Pelancong Muslim masih merasa tidak nyaman di sini. Pemerintah setempat sepertinya memahami hal tersebut," ungkap Datuk Ibrahim Haji Ahmad Badawi, kepala dari Brahim, sebuah perusahaan makanan asal Malaysia, kepada kantor berita AFP pada saat sebuah seminar tentang pariwisata halal di Tokyo, Jepang.

Tahun lalu sebuah rumah makan, The Osaka Chamber of Commerce bahkan menyebarkan 5.000 seleberan berisikan panduan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan. Meskipun alkohol dan daging babi sangat umum dikonsumsi masyarakat Jepang.

Di bulan Ramadan kali ini, Jepang tengah gencar melakukan promosi ke negara mayoritas muslim di Asia Tenggara. Khusus wisatawan asal Malaysia dan Thailand, proses pengurusan visa semakin dimudahkan.

Indonesia yang menjadi negara dengan penduduk muslim terbesar juga menjadi incaran Jepang. Menurut Japanese Tourist Office, wisaawan asal Indonesia yang berkunjung ke Jepang di tahun 2013 naik 37 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara untuk wisatawan Malaysia naik 21 persen.

Sementara untuk kunjungan wisatawan asal China mengalami normalisasi setelah sebelumnya pada tahun 2012 menyusut akibat konflik China-Jepang terkait sengketa sebuah pulau di Laut China Selatan.

Jepang kini juga meningkatkan persiapan menerima 20 juta wisatawan yang diproyeksikan akan hadir di Olimpiade Tokyo 2020.

(nay)
Komentar