Cabe-cabean: Gadis Belia Dijadikan 'Piala Bergilir' di Balapan Liar

Jum'at, 20 Desember 2013 17:41
Cabe-cabean: Gadis Belia Dijadikan 'Piala Bergilir' di Balapan LiarIlustrasi
Cabe-cabean menjadi istilah yang populer belakangan ini. Cabean-cabean merujuk pada ABG putri yang masih duduk di bangku SMP dan SMA yang sering keluar malam atau nongkong di arena balapan liar dan menjadi sasaran pelampiasan nafsu para pelaku balap liar tersebut. Bahkan, cabe-cabean yang dijadikan taruhan, layaknya piala bergilir bagi pemenang balap liar. Istilah cabe-cabean sendiri, merupakan singkatan. Cabe adalah frasa dari 'cewek alay bisa di ew*k'.

Fenomena cabe-cabean disinyalir akan menjadi tren populer. Cabe-cabean adalah pelarian bagi para remaja putri yang kurang mendapatkan perhatian orangtua, butuh pengakuan eksistensi diri, dan salah bergaul.

"Itu perubahan perilaku. Suatu bentuk kefrustasian remaja perempuan. Artinya pengawasan orangtua lepas, tanggung jawab abai. Anak keluar sampai malam itu tindakan yang kurang pengawasan dari orang tua. Fungsi pengawasan lemah," kata Ketua Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) Aries Merdeka Sirait kepada detik.

Cabe-cabean juga sering dijadikan sebagai taruhan layaknya piala bergilir. Para pembalap liar membawa cabe-cabean dan pemenang berhak memperoleh kepuasan seksual dari cewek tersebut.

KPAI (Komisi Perlindungan Anak) bukannya tidak tanggap dengan fenomena yang menyerang gadis belia ini. KPAI meminta Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo untuk menjalankan progam jam belajar. Dengan mengoptimalkan jam belajar masyarakat, tentu diharapkan remaja, terutama remaja putri, tidak ‘memiliki kesempatan’ untuk bergabung ke komunitas yang sebenarnya merendahkan martabat mereka sendiri itu.

"Karena itu pemprov harus lebih maksimal dalam menerapkan jam wajib belajar supaya tidak ada siswa yang nongkrong tengah malam," kata Ihsan, Ketua Satgas Perlindungan KPAI seperti dikutip JPNN.
(ec)
Komentar