5 Mitos dan Fakta Tentang Aborsi

Senin, 21 Oktober 2013 11:35
5 Mitos dan Fakta Tentang AborsiIlustrasi gambar aborsi janin @blogs.reuters.com
Sampai sekarang, praktik aborsi masih kontroversi. Setiap individu tentu mempunyai opini masing-masing mengenai hal ini. Di mana, opini tersebut terbentuk oleh pemahaman dan pengetahuan seseorang tentang aborsi.

Walau demikian, tidak jarang informasi yang membentuk opini tersebut merupakan mitos belaka. Dilansir Opt (Options for Sexual Health) inilah 5 mitos aborsi yang banyak diyakini orang-orang.

Aborsi dapat dikerjakan kapan saja selama masa kehamilan
Fakta: Aborsi tidak dapat dikerjakan semaunya kapan pun diinginkan. Dokter di beberapa negara malah hanya memperbolehkan untuk melakukan aborsi ketika umur kandungan masih muda, yakni pada trimester pertama.

Kadang ada yang mengizinkan sampai trimester kedua. Namun, semua sepakat jika melakukan aborsi ketika trimester ketiga merupakan tindakan terlarang. Ini berkaitan dengan keselamatan janin dan ibu.

Di Indonesia sendiri tindakan aborsi terlarang dilakukan bukan semata-mata karena faktor kesehatan. Lebih dari itu, aborsi masih dipandang sebagai tindakan ilegal yang bertentangan dengan moral, hukum, dan agama.

Aborsi lebih berbahaya dari melahirkan
Fakta: Aboris memiliki risiko yang sama dengan melahirkan, yang juga dapat mengakibatkan komplikasi. Tapi, sebuah penelitian yang dilakukan di Kanada tak menyimpulkan jika aborsi lebih berbahaya dibandingkan melahirkan.

Hal ini tergantung pada tindakan (praktik) aborsi yang dilakukan. Apabila, tindakan sesuai prosedur medis tentu memiliki tingkat keamanan lebih tinggi daripada aborsi yang dilakukan dengan praktik-praktik ilegal di luar prosedur medis.

Aborsi bisa picu kanker payudara
Fakta: NCI (National Cancer Institute) di Kanada, bulan Maret 2003, menunjukkan bahwa tidak ada hubungannya antara aborsi dengan meningkatnya risiko kanker payudara. Sampai sekarang pun belum ada satu pun penelitian ilmiah yang menunjukkan hubungan ini. Entah, berdasarkan apa mitos ini berkembang.

Aborsi sebabkan depresi dan trauma psikologi berkepanjangan
Fakta: Sejak 1980-an, para kelompok anti-aborsi di Amerika telah mengajukan trauma serta depresi sebagai salah satu alasan penolakan aborsi. Walau demikian, para peneliti tak menemukan jika wanita yang melakukan aborsi merasa depresi atau trauma yang diistilahkan dengan post-abortion syndrome.

Dibandingkan aborsi, lebih baik wanita memakai kontrasepsi
Fakta: Tidak ada alat kontrasepsi yang bisa mencegah kehamilan dengan jaminan 100 persen berhasil. Justru sebaliknya, hampir 54 persen wanita yang tidak menginginkan akan melakukan aborsi telah mencoba mencegah kehamilan dengan alat kontrasepsi.
(lpap)
Komentar