Jokowi Bikin Solo Jadi Woodstock Indonesia

Kamis, 09 Februari 2012
Jokowi Bikin Solo Jadi Woodstock Indonesia
Beberapa waktu lalu Walikota Joko Widodo atau yang dipanggil Jokowi menggelar konser rock di kota Solo,  konser rock berhasil digelar di kota yang terkenal kalem ini dengan meriah.

Tidak hanya Jokowi berambisi menjadikan Solo sebagai Woodstock untuk Indonesia. Woodstock adalah simbol budaya besar dalam sejarah musik. Jokowi memang dikenal sebagai penggemar musik, terutama musik rock.

Seperti apa ketertarikan Jokowi terhadap musik rock dan apa hubungannya dengan kota solo? Berikut wawancara Jokowi yang dilansir dari Yahoo! Indonesia.

Sejak kapan suka musik rock?
Saya dari muda suka rock. Kami di Solo punya acara Rock in Solo, dengan band lokal. Tahun lalu menampilkan Catalysm dan Death Angel. Untuk tahun ini, tanggal 20 saya mau ketemu manajemen Lamb of God di Singapura. Saya sudah pegang tiketnya. 

Lamb of God kan musik trash?

Ya, saya senang sejak muda. Waktu muda saya gondrong segini (menunjuk bahu).

Ketemu manajemen untuk apa?
Untuk tanya, kalau kalian ke Solo berapa biayanya? Saya berniat membiayai dengan dana dari sponsor, ini kan untuk event kota juga. Lamb of God kan sudah masuk Grammy, mahal. Masa Singapura bisa kita nggak bisa. Itu yang saya nggak seneng. Masa negara sekaya ini nggak bisa. Kadang terbersit itu aja, masa negara segede ini nggak bisa. Metalicca juga, meski mahal.

Ada yang keberatan?
Sejauh ini tidak ada yang kontra. Beda kalau metal setiap hari dan seni tradisi dilupakan. Ini kan setahun sekali. Di  Solo setiap tahun ada 46 event tradisi, jadi sekali-kali rock kan nggak apa-apa. Setiap hari sudah ada tarian, keroncong, batik carnival, ethic music, performing art dan lain-lain.

Nggak takut rusuh?
Itu harus diitung juga risikonya, dulu di Jakarta di Lebak Bulus juga rusuh.  Saya rasa di Solo nggak apa-apa. Saya pengen Solo suatu saat jadi Woodstocknya Indonesia. Apalagi nanti kalau Solo nanti punya opera house, dan punya ruang terbuka yang besar untuk pertunjukan.

Operahouse kapan dibangun?
Kemarin konsorsium sudah jadi tapi pecah lagi. Agak susah karena ini menyangkut uang triliunan. Kalau hanya miliar saja gampang, tapi ini triliunan. Hingga saat ini belum ada opera house di Indonesia. Kami ingin membangun yang bagus, setidaknya kapasitasnya 9 ribu. Bisa untuk orkestra, teater, tari tradisi dan lain-lain. Saya tidak bisa membayangkan nanti kotanya jadi seperti apa kalau sudah selesai dibangun. Ini bisa menarik orang tanpa harus membangun mall.

Kenapa kita harus mikir sebuah kota harus mall, harus mall, apa itu. Kepala daerah bangga kalau mallnya banyak, tapi saya tidak. Identitas dan karakter kota itu penting sekali. Karena ini membangun brand kota. Untuk branding kita harus memposisikan kota sebagai apa? diferensiasinya apa? Kita harus ngerti. Itu yang sering tak dibangun oleh pemimpin sebuah kota. Akhirnya setiap kota mirip-mirip, hampir sama.

Kota-kota itu sepertinya ada kecenderungan meniru Jakarta?
Nah itu meniru yang keliru. Jakarta memang etalasenya negara, jadi saya mengerti kecenderungan itu. Padahal dulu Bung Karno ingin membuat Thamrin dan Sudirman jadi contoh jalan utama kota. Tata ruang hijau di Jakarta direncanakan jadi paling baik dan akan menjadi contoh seluruh kota di Indonesia. Tapi ya sekarang.. sudahlah saya nggak mau komentar.

Untuk Solo, Solo harus menjadi eco cultural city, kota budaya dan juga pariwisata.

Bagaimana ? setuju konser rock digelar di Solo ?
(id.berita.yahoo.com/rha)
Komentar